Senin, 10 September 2012

Radio Rimba Raya, Pengabar Merdeka di Tengah Belantara

TUGU warna jingga itu berdiri tegak di bawah langit tengah hari yang terik, 3 Agustus 2012. Ada lima “tangan” menghadap ke lima arah. Di tengah tugu berdiri sebuah tiang mirip pemancar radio.
Tugu ini terletak di tengah kebun kosong. Untuk menuju ke tempat ini bisa melalui jalan kecil beraspal, sekitar 300 meter dari Jalan Takengon-Bireuen.
Di kaki tugu juga dibangun tangga dan tempat duduk bagi pengunjung. Selain sebagai logo daerah, pemerintah setempat menetapkan tugu ini sebagai objek wisata bersejarah.
Inilah Tugu Radio Rimba Raya yang terletak di Desa Rime Raya, Bener Meriah. Di bawah "tangan-tangan" tadi ada dua prasasti ukuran besar dalam dua bahasa: Inggris dan Indonesia. Isinya bercerita tentang peran Radio Rimba Raya memberitakan revolusi 1945 ketika perjuangan melawan Belanda masih menyala-nyala.
Menurut Ikmal Gopi, sutradara film dokumenter tentang radio tersebut, bentuk tugu sudah beberapa kali mengalami perombakan. Sebelum dirombak, kata Ikmal, pernah diadakan sayembara secara nasional untuk membuat maket tugu. Sayembara dimenangkan warga Takengon. “Saya lupa siapa namanya, tapi bentuknya yang sekarang berbeda dengan gambar yang menang sayembara itu,” ujar Ikmal kepada The Atjeh Times, Rabu pekan lalu.
Dalam buku berjudul Peranan Radio Rimba Raya  terbitan Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Aceh, disebutkan sebelum di Rime Raya, pemancar radio dipasang di Krueng Simpo. Sementara studionya dibawa ke kediaman Kolonel Husein Yoesoef, Komandan Tentara Republik Indonesia Divisi Gajah I, di Bireuen.
Radio menggunakan pemancar merek Marcori yang dibawa dari Malaysia oleh Mayor John Lie. Ia penyeludup kelas wahid kala itu yang oleh Belanda di juluki “The Greatest Smuggler of the Southeast”. Perangkat pemancar itu didaratkan di Kuala Yu, Kuala Simpang. Di sana, John Lie disambut Nukum Sanani atas perintah Daud Beureueh, Gubernur Militer Aceh, Langkat, dan Tanah Karo. Setelah itu, perangkat radio dibawa ke Langsa dan selanjutnya ke Bireuen.
Namun, versi lain menyebutkan, pada awal agresi militer Belanda pertama, 27 Juli 1947, perangkat pemancar dibawa Kapten NIP Karim (ada yang menulisnya Nip Xarim). Ia Komandan Batalyon B di Tanjung Pura, Langkat.
Karim juga pernah menjabat Wakil Pemerintah Gubernur Militer Aceh dan Tanah Karo yang berkedudukan di Pangkalan Brandan. Lalu, Husein Yoesoef  meminta NIP Karim membawa pemancar ke Bireuen.
Ikmal Gopi yang meneliti riwayat John Lie menyebutkan, sang mayor berangkat ke Singapura menumpang kapal Inggris pada 1947 saat meletus agresi militer pertama. Baru pada September 1947, kata Ikmal, John Lie singgah ke Pelabuhan Bilik Medan, lalu ke Pelabuhan Raja Ulak di Kuala Simpang.
Yang pasti, tak lama di Bireuen, beberapa bulan kemudian pemancar dipindahkan ke Cot Gue, Kutaraja (Banda Aceh). Alasan pemindahan menurut Ikmal karena kondisi keamanan dan untuk mempercepat pemberitaan perjuangan kemerdekaan.
Di Kutaraja pemancar radio dipasang di Cot Gue, sedangkan studio dibuat dalam sebuah gedung peninggalan Belanda di Peunayong. Antara pemancar dan studio terhubung kabel.
Namun, ketika pemancar di Cot Gue sedang dipasang, Belanda melancarkan agresi militer kedua pada 19 Desember 1948. Daud Beureueh memerintahkan pemancar dipindahkan ke Gayo.
Seperti tercatat dalam prasasti tadi, setelah Yogya jatuh, Belanda mulai menguasai wilayah-wilayah lain di Indonesia, kecuali Aceh. Sehari kemudian perangkat pemancar diberangkatkan secara diam-diam ke Aceh Tengah, di Kampung Rime Raya, Kecamatan Timang Gajah. Pemancar tersebut akhirnya didirikan di Krueng Simpo, sekitar 20 kilometer dari Bireuen arah Takengon.
Namun masalah timbul, tak ada mesin listrik. Ummi Salamah, istri Husein Yoesoef berusaha mendapatkannya ke Lampahan dan Bireuen. Usaha itu gagal. Mesin listrik akhirnya diperoleh Ummi dari Kuala Simpang. Beres soal listrik, muncul masalah lain, kabel tak cukup. Setelah dicari kabel akhirnya ditemukan di Lampahan dan Bireuen.
Radio dibangun di pucuk gunung dan tersembunyi. Sebuah rumah juga dibangun untuk tempat peralatan kelengkapan radio, sedangkan studio radio berada di salah satu kamar rumah Husein Yoesoef.
Pemasangan radio dilakukan beberapa desertir pasukan sekutu, seperti W. Schult, Letnan Satu Candra, Sersan Nagris, Sersan Syamsuddin, Abubakar, dan Letnan Satu Abdulah. Mereka tentara Inggris yang bergabung dengan sekutu.
Para desertir membantu membuat gubuk dan membangun radio sesuai dengan keahlian masing-masing. Studio dibangun di bawah pohon tinggi dan rindang. Antena ditancapkan di atas pohon. Di gubuk juga dipasang pesawat radio penerima berita khusus.
Dengan mesin diesel, radio mengudara sejak pukul 16.00 hingga 18.00 WIB. Selain bahasa Indonesia, beberapa bahasa asing digunakan saat siaran seperti Inggris, Belanda, Arab, Cina, Urdu, India, dan Pakistan Madras.
Para desertir itulah yang menyiarkan siaran dalam bahasa asing. Seperti tertera dalam prasasti di bawah tugu, sesudah mengudara menembus angkasa, Radio Rimba Raya mengabarkan pada dunia bahwa Indonesia masih ada.[]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar