Kamis, 22 September 2011

Woi, Membuat Film Dokumenter Itu Tidak Gampang !


Published on September 20, 2011 by

Sebenarnya wawancara tentang Radio Rimba Raya ini sudah terlaksana pada tahun 2010 lalu yang sengaja direkam dalam bentuk audio (suara) untuk kepentingan sejarah, pemahaman tentang sejarah, pengetahuan tentang sejarah, khususnya generasi muda Gayo dan umumnya generasi muda seluruh Indonesia tentang kiprah Radio Rimba Raya pada perang kemerdekaan negera Republik Indonesia. Akhirnya, wawancara tersebut saya rilis kembali ke dalam bentuk tulisan. Pada saat wawancara, Sutaradara film documenter Sejarah Perjuangan Radio Rimba Raya, Ikmal Gopi di temani oleh Win Adunk, Noto Gayo dan saya sendiri.

Berikut ini petikan wawancara penyiar Radio Ardan, Andra dengan Ikmal Gopi, dalam “Talkshow Radio Rakyat Merdeka” di markas Radio Ardan Bandung, Minggu, 12 Desember 2010 lalu.

Bisa diceritakan sedikit, mungkin insan muda ada yang belum tahu, sebenarnya Radio Rimba Raya itu apa?

Radio Rimba Raya ini, radio yang berada di pedalaman Aceh, kebetulan bertepatan di Aceh Tengah , Gayo Takengon, sekarang setelah pemekaran itu di sebut dengan Bener Meriah. Nah, sebenarnya Radio Rimba Raya ini sendiri belum banyak dikenal orang termasuk saya sendiri.

Lho, kok bisa, tahunya darimana?

Nah, inilah yang membuat ketertarikan saya, untuk membuat film dokumenter ini, ternyata Radio Rimba Raya ini perannya pada saat revolusi fisik itu sangat besar dan sumbangsihnya terhadap republik ini sampai terakhir pengakuan Belanda terhadap Indonesia pada saat KMB ( Konferensi Meja Bundar .) ternyata pengaruh Radio Rimba Raya ini sangat besar.

Tapi, karena mungkin mas Ikmal sendiri awalnya tidak tahu ya? Sampai mas Ikmal berkeinginan membuat Film Dokumenter?

Awalnya, kebetulan saya di Takengon ya, itu hanya omongan-omongan orang tua saya, teman-teman bahwa disini ada radio yang pernah memperjuangkan kemerdekaan kita, pada saat revolusi fisik, saya juga belum terfikir sampai sejauh mana kiprah radio Rimba Raya ini, nah, setelah saya kuliah ke Jakarta, disinilah ketertarikan saya untuk membuat film dokumenter tentang Radio Rimba Raya ini, sampai sejauh mana kiprahnya. Pada tahun 2002 saya mulai bulatkan tekad, kemudian pada tahun 2006 saya mulai riset, mencari data di internet, ternyata di internet juga tidak begitu banyak informasi tentang radio ini, saya bingung, kemana lagi saya harus cari, kemudian saya coba hubungi teman-teman barangkali tahu tentang Radio Rimba Raya ini, tapi informasi dari teman-teman itu belum meyakinkan saya tentang kiprah Radio Rimba Raya, walaupun saya sendiri pernah mendengar cuma saya belum yakin juga. Ternyata, setelah saya riset, saya tanya kepada tokoh-tokoh pejuang yang kebetulan ada di Jakarta ini, inilah yang meyakinkan saya tentang Radio Rimba Raya, tapi sepak terjang radio ini yang membuat saya untuk berbuat lebih kreatif untuk mendapatkan informasi dan fakta-fakta yang akurat tentang sejarah Radio Rimba Raya, sebab apa, seperti informasi dalam buku sejarah, misalnya, Serangan Umum 1 Maret itu tidak begitu jelas, kemudian ada beberapa buku itupun tidak begitu banyak menerangkan tentang Radio Rimba Raya. Nah, sejak itulah saya penasaran untuk menguak kiprah Radio Rimba Raya ini.

Radio Rimba Raya yang memang sangat berperan penting dalam perang kemerdekaan Indonesia, bukan begitu mas Ikmal?

Betul Sekali..

Ini film dokumenter pertama yang mas Ikmal buat ya?

Iya, betul ..

Referensi dan data-data dari film ini di dapat dari mana?

Referensinya ada beberapa yang kita ambil dari buku-buku sejarah, walaupun tidak detil menceritakan tentang peranan Radio Rimba Raya saat itu, tetapi setelah kita riset dan mengambil gambar, ternyata kita bisa mengambil sebuah kesimpulan bahwa Radio Rimba Raya itu sangat besar peranannya pada revolusi fisik saat itu, karena salah satu yang memberi kekuatan buat republik ini yaitu menyiarkan Serangan Umum 1 Maret, enam jam di Jogja itu, adalah Radio Rimba Raya yang menyiarkan. Seperti perjalanan jendral Sudirman saat bergerilya, itu diketahui oleh Radio Rimba Raya ini, jadi, informasi-informasi dari Playen, Gunung Kidul, dari Sumatera Barat, pemimpin PDRI, Syafrudin Prawiranegara itu selalu mengirim berita ke Aceh. Nah, dari Jawa ke Padang yaitu Bukit tinggi, ke Halaban, pemerintahan bergerilya dalam hutan serta situasi-situasi dan kejadian saat itu selalu dikabarkan lewat Radio Rimba Raya.

Tadi sudah sempat ngobrol tentang kendala yang dihadapi, seperti susah mencari data dan sebagainya. Kendala lain yang dihadapi?

Memang, kendala lain yang saya hadapi saat pembuatan film dokumenter ini, saya bisa ambil kesimpulan barangkali cuma satu persen dari sejarah –sejarah Indonesia.

Hampir terlupakan, padahal berperan sekali ya dalam perang kemerdekaan Indonesia?

Betul, nah inilah yang membuat saya agak sedikit kesulitan mencari data-data tentang Radio Rimba Raya, sampai sejauh mana Radio Rimba Raya ini juga diketahui oleh masyarakat Indonesia begitu juga dengan para sejarawan ternyata sedikit sekali. Disitu kesulitan saya.

Kemarin, sempat di nominasikan ke dalam film dokumenter terbaik di ajang FFI 2010? Bagaimana perasaan mas Ikmal?

Memang, saya tidak menyangka ternyata Radio Rimba Raya ini masuk dalam lima terbaik dari enam puluh film dokumenter yang masuk.

Terus, Bagaimana perasaan mas Ikmal?

Saya sangat terharu, proses produksi film ini sudah hampir empat sampai limatahun .

Dan masuk FFI ini baru 2010? Perjuangan anda merasa terbayarkan ya?

Iya, betul..

Mungkin, ada kabar lagi film dokumenter Radio Rimba Raya ini masuk ke ajang-ajang lain?

Kebetulan film ini masuk juga dalam tujuh besar di festival film dokumenter Jogjakarta. Itu informasi yang terakhir saya dapatkan, itu juga ada sekitar delapan puluh film yang masuk, tetapi di bagi ke beberapa kategori, ada film pelajar, film pendek, dan film panjang, nahh, Radio Rimba Raya masuk di dalamnya.

Jadi dari delapan puluh film yang diperlombakan Radio Rimba Raya masuk tujuh besar?

Iya, betul..

Kembali lagi soal film dokumenter Radio Rimba Raya, adakah ekspetasi yang timbul saat mas membuat film dokumenter ini? Apa harapannya? mungkin setelah orang-orang menonton film dokumenter ini?

Banyak komentar ya, setelah menonton film Radio Rimba Raya ini, mereka banyak yang tidak menyangka ternyata peran Radio Rimba Raya ini sangat penting pada masa itu, saya tidak menafikan ya, barangkali kalau tidak ada Radio Rimba Raya ini , saya tidak tahu apa yang terjadi dengan republik ini. Bisa saja proses perjuangan kita agak panjang selain perang fisik, sebab peran radio saat itu sangat penting untuk memberi informasi-informasi apa yang terjadi di republik ini ke dunia internasional.

Jadi, Radio Rimba Raya ini sampai ke dunia internasional ya?

Iya, betul sekali..

Katanya Radio Rimba Raya ini memakai berbagai macam bahasa, apa saja?

Ada sekitar lima bahasa ya, yaitu : Bahasa Inggris, Bahasa Belanda, Bahasa India, Bahasa Arab dan Bahasa Cina.

Ok, kalau bicara film ini, langkah awal sekali yang mas Ikmal lakukan itu apa? Yang benar-benar nyata, mungkin langsung mengontak siapa, atau browsing atau bagaimana?

Pertama yang saya lakukan adalah browsing ya, untuk mencari sampai sejauh mana informasi tentang Radio Rimba Raya ini, apa saja data-datanya, kemudian dari situlah saya mulai melakukan breakdown, setelah itu saya melakukan riset di Jakarta, saya cari tokoh-tokoh yang masih berkompeten ya, yang masih ada yang berperan di Aceh, yang berdomisili di Jakarta, itu awal sekali saya lakukan untuk membuat film dokumenter Radio Rimba Raya ini. Bahan- bahan inilah saya kumpulkan , dan inilah acuan saya untuk maju ke langkah selanjutnya, sehinngga saya harus ke Aceh untuk mencari data, sehingga semakin memperkuat data-data tentang sejarah Radio RimbRaya. Kemudian saya ke Padang, di Bukit Tinggi, langsung ke daerah PDRI di Koto Tinggi, terus balik lagi ke Jakarta, ke Jogja dan ke Gunung Kidul. Di Gunung Kidul ini ada yang menarik, disitu ada Radio PC2, radionya Budiardjo, dulu bekas Menteri Penerangan, saya merasa kaget, disitu saya melihat ada foto dan tulisan Takengon, wahhh, ternyata benar ini Radio Rimba Raya. Itu di Gunung Kidul.

Setiap pembuatan film dokumenter pasti ada pesan- pesan yang ingin disampaikan kepada penonton, nah, kalau dari film dokumenter Radio Rimba Raya ini, apa pesan-pesan yang ingin disampaikan?

Pesan saya, Radio Rimba Raya ini adalah radio yang terlupakan ya, radio yang sangat berperan saat itu, yang ingin saya sampaikan bahwa supaya regenerasi kita sekarang baik di dunia pendidikan bahkan masyarakat Indonesia harus mengetahui bahwa peranan radio Rimba Raya ini sangat penting. Jangan dilupakan, karena peranan radio saat itu, bayangkan kalau radio tidak ada, itu informasi akan lumpuh, kalau boleh saya kutip ucapan seorang tokoh Omair Said Noor “ kita ini seperti buta dan tuli” orang tidak tahu, dan kita juga mau ngomong dengan siapa kalau tidak ada radio pada saat itu? Saya harap ke depan ini menjadi sebuah sejarah, dan kalau bisa Radio Rimba Raya ini menjadi sejarah nasional, dan jangan menjadi sejarah lokal saja, karena Radio Rimba Raya ini bukan hanya memperjuangkan kepentingan daerah tetapi untuk Indonesia, saya harap generasi kita, masyarakat kita bahwa Radio Rimba Raya ini janganlah dilupakan sampai kapanpun, kalau bisa ada riset-riset tertentu ya, barangkali film dokumenter ini belum lengkap untuk membenarkan sejarah ini,. Dan itu tidak menjadi masalah.

Sebagai warga negara Indonesia yang baik harus mengingat sejarahnya, betul tidak mas Ikmal?

Benar sekali…

Mungkin yang terakhir, ada yang ingin disampaikan terhadap insan muda kita mas Ikmal?

Nahh, ternyata membuat film dokumenter itu tidak gampang ya..

Mungkin ada pesan-pesan lain, seperti harus sabar, soalnya sampai lima tahun membuatnya?

Dalam membuat dokumenter ya, kita harus kuat dalam hal riset kemudian survei, kemudian kita coba breakdown apa yang kita dapat dilapangan dan apa yang sebenarnya kita mau buat, begitu. Karena membuat film dokumenter ini tidak segampang seperti yang kita omongkan. Selalu ada saja tantangan yang kita hadapi dilapangan, jadi kita harus sabar, boleh ambisius, akan tetapi jangan terlalu berlebihan. Tanpa kesabaran dalam membuat dokumenter, itu akan kosong atau hampa, begitu. Buatlah film dokumenter se real mungkin , jangan mencoba untuk mempropaganda, buatlah seobyektif mungkin. (Zuhri Sinatra)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar