Sabtu, 03 April 2010

Radio Rimba Raya


Salah satu modal perjuangan bangsa Indonesia pada masa Perang Kemerdekaan adalah alat komunikasi, yaitu radio. Semenjak awal Perang Kemerdekaan daerah Aceh telah memiliki sebuah pemancar radio yang ditempatkan di Kutaraja dan dalam perkembangan selanjutnya pada tahun 1947 ditambah sebuah pemancar lagi yang ditempatkan di Kabupaten Aceh Tengah pada waktu itu (sekarang Kabupaten Bener Meriah). Radio pertama dinamakan Radio Republik Indonesia Kutaraja dan yang kedua dinamakan Radio Rimba Raya. Kedua pemancar itu telah memegang peranan penting pada masa Perang Kemerdekaan sehingga sarana itu dapat dikatakan sebagai bagian dari modal perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan.
Pemancar Radio Republik Indonesia Kutaraja dibangun dari bekas puing-puing peninggalan tentara Jepang yang berhasil dirakit kembali. Perakitan itu dilakukan atas inisiatif beberapa pemuda yang pada waktu itu bergerak di bidang penerangan atau komunikasi di Kutaraja seperti Abdul Aziz, Tuangku Mahmud, Teuku Ali Basyah Talsya, Razali Yunus, Oesman Raliby, dan Said Ahmad Dahlan.
Pada masa pendudukan Jepang, pemancar Radio Kutaraja itu dikenal dengan nama Hodoka yang penyelenggaraan siarannya dilakukan oleh bagian penerangan Jepang. Adapun jangkauan siarannya hanya sekitar wilayah Kutaraja saja. Setelah pejabat Jepang di Kutaraja mengetahui bahwa Jepang telah menyerah kalah kepada Sekutu, mereka segera menghancurkan peralatan radio Hodoka itu. Sisa-sisa atau puing-puing peralatan radio itulah yang dirakit kembali oleh pemuda-pemuda tersebut di atas sehingga mereka dapat membangun kembali sebuah pemancar radio yang dinamakan Radio Republik Indonesia Kutaraja.
Pemancar Radio Republik Indonesia Kutaraja, pertama kali mengumandang di udara pada tanggal 11 Mei 1946, dengan kekuatan 25 watt melalui gelombang 68 meter ; jangkauan siarannya seperti juga radio Hodoka milik Jepang hanya sekitar Kutaraja saja. Namun dalam perkembangannya, tahun 1947 dengan bantuan seorang Indo-Jerman warga Negara Indonesia bernama W. Schultz dan seorang keturunan Cina bernama Ho Jok Tjam (keduanya ahli dalam bidang telekomunikasi), kekuatan Radio Republik Indonesia Kutaraja itu berhasil dikembangkan menjadi 100 watt sehingga jangkauan siarannya telah dapat ditangkap sampai ke kota Medan dan Bukit Tinggi.
Selanjutnya pada tanggal 9 April 1948, radio itu dikembangkan menjadi 325 watt dan mengudara melalui gelombang 33,5 meter. Dengan pengembangan dan penambahan kekuatan watt itu maka siaran radio Republik Indonesia Kutaraja pada waktu itu sudah dapat ditangkap di luar negeri. Ketika Dewan Keamanan PBB bersidang membicarakan masalah pertikaian antara Negara Republik Indonesia dengan Belanda, Radio Republik Indonesia Kutaraja berulang-ulang mengadakan siaran dengan menyiarkan keinginan dan tekad serta sikap bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaannya. Berbagai mosi dan resolusi disiarkan melalui Radio Republik Indonesia itu, terutama yang berhubungan dengan kepentingan perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaannya. Konon isi siaran itu dapat ditangkap oleh Perwakilan Republik Indonesia di kota tempat sidang Dewan Keamanan PBB itu berlangsung sehingga dapat dijadikan bahan-bahan berguna untuk dikemukakan dalam perdebatan-perdebatan yang diadakan oleh Dewan Keamanan dalam membela kepentingan-kepentingan bangsa Indonesia.
Selain itu kampanye-kampanye Belanda yang menjelek-jelekkan Republik Indonesia di mata dunia Internasional dibantah dengan tegas oleh Radio Republik Indonesia Kutaraja. Pemancar radio itu pada waktu itu juga dipergunakan oleh PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) yang berkedudukan di Sumatera tengah untuk mengirim berita-berita, menyiarkan pengumuman-pengumuman maupun instruksi-instruksi baik yang ditujukan kepada tokoh-tokoh perjuangan bangsa Indonesia yang berada di dalam negeri maupun kepada Kepala Perwakilan Indonesia di luar negeri seperti kepada Dr. Soedarsono di New Delhi dan N. Palar wakil Republik Indonesia di PBB.
Adapun bahasa yang digunakan oleh Radio Republik Indonesia Kutaraja pada waktu itu adalah selain bahasa Indonesia juga bahasa Inggris dan bahasa Belanda. Berbeda dengan Radio Republik Indonesia Kutaraja, Pemancar Radio Rimba Raya mempunyai kekuatan besar untuk ukuran waktu itu, yaitu 1 kilowatt, dikelola oleh Divisi X TNI dan mendapat pengawasan khusus dari Komandan Divisi X Kolonel Husin Jusuf.
Radio Rimba Raya berasal dari Malaya (Malaysia) yang diseludupkan dengan menerobos blokade Belanda di Selat Malaka. Adapun yang memaksukkan peralatan komunikasi itu ke wilayah Indonesia adalah Tentara Nasional Indonesia dengan menggunakan Speed boat di bawah pimpinan Mayor John Lie. Selain itu menurut Kolonel Husin Joesoef adanya Radio Rimba Raya adalah berkat keinsyafan dan pengorbanan yang telah diberikan oleh sejumlah pemuda Aceh. Mereka menyadari betapa pentingnya peranan pemancar radio sebagai alat komunikasi pada masa perjuangan itu. Untuk itu mereka berusaha dengan segala upaya agar mereka dapat memiliki sebuah pemancar radio yang dapat menunjang perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Persiapan untuk mendapatkan pemancar radio itu pada mulanya dikoordinir sendiri oleh Komandan TNI Divisi X, Kolonel Husin Joesoef. Untuk itu ia meminta bantuan kepada Mayor John Lie Perwira pada Angkatan Laut Republik Indonesia, yang sudah biasa menyeludupkan senjata dari Malaya untuk kepentingan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Bersama John Lie ditugaskan pula 24 orang anggota TNI yang berada di bawah Komando Divisi X. Sebelum berangkat mereka dikumpulkan di kediaman Kolonel Husin Joesoef di Bireun untuk diberikan petunjuk-petunjuk sehubungan dengan maksud misi mereka.
Dalam pelayaran ke Malaya menggunakan 2 buah speed boat yang setiapnya ditumpangi oleh 12 orang perajurit. Selama dalam pelayaran mereka tidak mendapat rintangan dari penjagaan Belanda. Namun ketika kembali membawa sebuah pemancar radio dengan tujuan untuk mendarat pada salah satu tempat yang telah disepakati yaitu yaitu di Lima Mungkur, kedua speed boat itu mendapat serangan dari Angkatan Udara Belanda yang sedang melakukan patroli. Untuk menjaga pemancar radio yang telah berhasil mereka dapatkan dari Malaya agar selamat sampai ke tujuan maka speed boat yang tidak membawa pemancar itu, sengaja menumpangkan diri untuk ditembaki oleh Angkatan Udara Belanda. Akibatnya speed boat itu tenggelam dan keduabelas orang prajurit yang berada di dalamnya gugur. Menurut Husin Joesoef, keduabelas mereka yang gugur itu adalah dari pasukan Batalyon B (Komandan Batalyon Nip Karim). Sementara 12 orang prajurit lainnya yang berada dalam speed boat beserta pemancar radio yang dibawanya berhasil meloloskan diri. Melalui Tanjungpura (Langkat) mereka akhirnya sampai ke Bireun.
Pemancar itu pertama kali dipasang di Krueng Simpo sekitar 20 km dari kota Bireun ke arah Takengon. Teknis pelaksanaan pemasangan pemancar radio itu dilakukan oleh W. Schultz, yang juga pernah membantu meningkatkan siaran Radio Republik Indonesia Kutaraja. Dalam pelaksanaan pemasangan itu W. Schultz mendapat bantuan dari beberapa perwira TNI Divisi X, di antaranya Letnan Sajudin, Letnan R. Abdullah, Letnan Syarifuddin, serta Ramly Melayu seorang pegawai PTT yang diberbantukan pada bagian perhubungan Tentara Divisi X. Studio penyiarannya berada di kota Bireun, di rumah kediaman Husin Joesoef.
Dengan adanya pergantian pimpinan Komandan Divisi X dari Husin Joesoef kepada Gubernur Militer, Langkat dan Tanah Karo, Jenderal Mayor Tit. Teungku M. Daud Beureu-eh dan situasi pada waktu itu sudah mulai reda, pemancar radio yang ada di Krueng Simpo oleh Gubernur Militer diperintahkan supaya dipindahkan ke Kutaraja. Di Kutaraja pemancar radio itu oleh bagian perhubungan militer dipasang di Cot Gue (sekitar 8 km sebelah selatan Kutaraja), sedangkat studio penyiarannya di tempatkan di Kutaraja. Pemasangan pemancar itu di Kutaraja juga mendapat bantuan dari W. Schultz di bawah pimpinan Kapten Hasan Ahmad.
Dalam penyiarannya radio itu menggunakan signal call radio Republik Indonesia Kutaraja (RRI Kutaraja) pada gelombang yang resmi, sedangkan pada gelombang pemancar lainnya menggunakan signal call Radio tentara Divisi X, dengan gelombang pancaran 15-25 dan61 meter. Pangasuhan radio itu dilaksanakan oleh Bagian Penerangan tentara Divisi X yang pada waktu itu dikepalai oleh Kapten A. G. Mutyara.
Beberapa hari setelah pemancar radio itu selesai dipasang, diperoleh berita bahwa Belanda telah melakukan agresinya yang kedua terhadap wilayah Republik Indonesia. Ibukota Republik Indonesia Yogyakarta pada hari pertama agresi militer kedua dilancarkan berhasil dikuasai oleh Belanda dan Presiden Soekarno serta Wakil Presiden Muhammad Hatta juga berhasil mereka tawan. Hal itu telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan para pemimpin bangsa Indonesia di berbagai daerah termasuk di daerah Aceh. Para pemimpin di Aceh memperhitungkan bahwa pada gilirannya Belanda tentu akan menyerbu pula ke Aceh. Apabila hal itu terjadi maka Kutaraja diperkirakan juga akan menjadi sasaran utama penyerbuan tersebut. Oleh karena itu, perlu dipikirkan suatu tempat atau daerah yang cocok untuk dijadikan pusat kegiatan pemerintahan dan basis perjuangan rakyat sebagai pengganti Kutaraja. Berdasarkan perhitungan, daerah atau tempat yang paling cocok untuk itu adalah daerah sekitar kota Takengon. Atas dasar pertimbangan itu, maka pemancar radio yang baru saja dipasang di Cot Gue terpaksa di bongkar kembali ; sehari setelah agresi Belanda kedua atau tepatnya pada tanggal 20 Desember 1948 atas perintah Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo, pemancar radio itu dipindahkan ke daerah yang diperkirakan akan lebih aman dari gangguan Belanda yaitu ke sebuah pegunungan yang dikenal dengan nama Burni Bius 9gunung bius) yang letaknya sekitar 10 km di bagian barat kota Takengon.
Dalam perjalanan ke tempat baru itu, iring-iringan mobil yang membawa pemancar itu “tercium” oleh pesawat pengintai Belanda. Untuk menghindari serangan pesawat tersebut maka kadangkala iring-iringan mobil itu terpaksa menyeludup ke hutan-hutan. Adapun yang menjadi sopir mobil yang membawa pemancar radio itu bernama Abbas atau lebih populer dengan panggilan Kapiten Abbas.
Adanya incaran yang dilakukan pesawat Belanda tersebut dan juga setelah Kolonel Husin Joesoef serta W. Schultz mengemukakan alasan-alasan keamanan dan hal-hal yang menyangkut masalah teknis yang kurang menguntungkan kepada Gubernur Militer Teungku Muhammad Daud Beureu-eh, maka rencana pemasangan pemancar tersebut di pegunungan Burni Bius terpaksa dibatalkan.
Setelah dipertimbangkan, kemungkinan pemancar itu dipasang di suatu tempat yang baru juga dilakukan oleh W. Schultz dan dibantu oleh beberapa tenaga dari Divisi X, seperti Ramli Melayu, Syamsuddin, Letnan Syarifuddin dan Letnan R. Abdullah. Radio Rimba Raya itu mempunyai beberapa calling sign ; Sumatera Radio Republik Indonesia, Suara Indonesia Merdeka, dan Radio Rimba Raya. Dengan menggunakan gelombang 19 dan 25 meter. Untuk calling sign Radio Republik Indonesia Kutaraja, dipakai gelombang 61 meter. Siaran-siaran dari radio itu dapat jelas ditangkap di luar negeri.
Berita-berita disiarkan dengan menggunakan 6 bahasa yaitu bahasa Indonesia, Inggris, Belanda, Arab, Cina, dan Urdu, di antara nama penyiarnya ialah Hiju Wun Wi untuk bahasa Cina, Candra untuk bahasa Urdu, Abdullah Arief untuk bahasa Arab, dan Abdullah untuk bahasa Inggris. Nama yang terakhir adalah seorang berkebangsaan Inggris yang memihak kepada Indonesia dengan menggunakan nama samaran Abdullah.
Radio Rimba Raya juga dapat berhubungan dengan pemancar kecil yang dimiliki oleh Pemerintah Darurat Republik Indonesia di Suliki, Sumatera Barat. Radio itu juga dapat mengadakan kontak dengan Kepala Staf Angkatan Perang Republik Indonesia Simatupang di Banaran, Yogyakarta. Selain itu sama halnya dengan pemancar RRI Kutaraja, Radio Rimba Raya menyiarkan pula instruksi-instruksi dari Pemerintah Darurat Republik Indonesia untuk diteruskan kepada Perwakilan-Perwakilan Republik Indonesia di luar negeri seperti kepada Duta Besar Soedarsono di India dan N. Palar di markas besar PBB. Radio itu menyiarkan pula bantahan-bantahan terhadap berita atau propaganda-propaganda yang dilancarkan oleh pihak Belanda melalui Radio Medan dan Radio Batavia dalam rangka menjelek-jelekkan atau memojokkan Republik Indonesia.
Koordinator Radio Rimba Raya itu berada di bawah pimpinan Kolonel Husin Joesoef dan pimpinan redaktur penyiarannya dipegang oleh Abdullah Arief serta pimpinan teknik penyiaran dipegang oleh A. G. Mutyara. Penggunaan Radio Rimba Raya sebagai sarana perjuangan bangsa Indonesia terus berlanjut hingga saat pengakuat dan penyerahan kedaulatan oleh pihak Belanda kepada Indonesia pada akhir tahun 1949.

oleh Sudirman

Tidak ada komentar:

Posting Komentar