Senin, 19 September 2011

Nonton Bareng Film Dokumenter Radio Rimba Raya di Takengon

Jumat, 16 September 2011


Assalammualaikum
Hari Sabtu yang lalu (10/9/2011), aku bareng Mimi kembaranku dapat undangan buat nonton film dokumenter Radio Rimba Raya di Takengon. Awalnya sih masih ragu bisa hadir apa nggak, karena pemutaran filmnya malam hari. Kalo sama papa sih biasa jarang-jarang dapet izin buat keluar malam. Tapi alhamdulillah akhirnya diizinin juga. Awalnya sih acaranya mau diadain hari minggunya, tapi entah kenapa jadi dipercepat. Syukur juga sih, soalnya kalo pemutarannya hari minggu, aku udah pasti nggak bakal bisa nonton karena harus balik ke Medan malemnya.

Film dokumenter ini adalah karya dari putra daerah yang bernama Ikmal Gopi. Yang lebih serunya lagi, pemutarannya filmnya kayak pemutara layar tancep gitu saking ramenya yang nonton. Tenda dan kursi yang disediain panitia ampe nggak cukup gitu. Diriku salah satu penonton yang harus rela berdiri manis di sudut lapangan. Walau hujan sempat turun, antusias penonton tetap tinggi. Buktinya nggak langsung bubar seketika juga pas hujan mengguyur. Beruntung aku ketemu senior sewaktu di SMA yang bawa payung. Jadinya bisa nebeng deh *nasib nggak bawa payung sendiri*. Kalo mau lihat liputan lengkapnya, klik DISINI aja ya :)

Ini dia cover filmnya

Duh jadi lupa, teman-teman udah pada tahu kan sama Radio Rimba Raya?
Radio ini adalah Radio Republik Indonesia Darurat yang disiarkan dari Dataran Tinggi Gayo. Waktu itu berita yang disiarkan itu berkaitan dengan usaha mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Jadi lewat radio ini nih disiarkan bahwa Negara Indonesia itu masih ada ke beberapa negara dengan beberapa bahasa juga. Radio ini disembunyikan di Kampung Rimba Raya, kecamatan Pintu Rime Gayo, kabupaten Bener Meriah. Untuk mengenangnya, di sana kita masih bisa mendapati menumennya. Tapi perangkat radionya udah nggak ada, karena disimpan di salah satu museum di Jogjakarta. Gitu deh kira-kira cerita singkatnya. Kalo mau tau lebih jelasnya, klik DISINI aja ya :)

Malem minggu yang seru walau begitu film habis kami langsung pulang, hehe...
Senang melihat antusias warga Takengon yang masih peduli dengan masalah sejarah beginian, apalagi aku lihat banyak anak kecil yang nonton. Moga aja ke depannya makin banyak cineas kreatif yang mengangkat masalah sejarah seperti ini. Temen-temen kalo filmnya udah beredar di pasar (tapi nggak tau juga sih, bakal dijual nggak ya?) harus nonton ya, biar tahu juga kalo sebenarnya pernah ada radio yang nyiarin tentang keberadaan negara kita semasa penjajahan Belanda.

Mari peduli dengan sejarah (>o<)/

Selasa, 13 September 2011

Sejumlah Seniman Meriahkan Pentas Seni Budaya "Inilah Gayo 2"

Aceh - Senin, 12 Sep 2011 01:10 WIB

Takengon, (Analisa). Sejumlah seniman dan grup band dipastikan akan berpartisipasi memeriahkan kegiatan pentas seni budaya "Inilah Gayo 2" yang digelar di Lapangan Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Hakim Bale Bujang, Kecamatan Lut Tawar Takengon, Sabtu dan Minggu (10-11/9).
Acara diisi dengan pemutaran film dokumenter sejarah perjuangan Radio Rimba Raya (RRR) karya sutradara Ikmal Gopi. Film ini berhasil meraih nominasi diajang Festival Film Indonesia (FFI) 2010. Kemudian acara akan diisi dengan sejumlah grup band yang akan membawakan lagu-lagu heroisme pejuang asal dataran tinggi Gayo. Dalam kesempatan tersebut juga akan tampil sejumlah seniman/penyair yang akan membawakan puisi.

Selanjutnya pameran sejumlah foto karya fotografer dataran tinggi Gayo yang tergabung dalam wadah Gayo Fotografer Club. Materi foto-foto tersebut umumnya adalah foto seputar kegiatan penelitian manusia prasejarah di Loyang Mendale dan Ujung Karang, Kecamatan Kebayakan yang ditemukan oleh Balai Arkeologi Medan Sumatera Utara beberapa waktu lalu, kata Khalisudin, salah satu penggagas ‘Inilah Gayo 2’ kepada Analisa, Minggu (11/9).

Sementara untuk pementasan seni, ujar Khalis, dipastikan akan tampil LK Ara, Fikar W Eda, Salman Yoga Ipap Suprapto, Devis Fikar dan lainnya yang akan membacakan puisi-puisinya. Untuk tari dan musik akan tampil sanggar Oloh Guel, grup band SMAN 4 Takengon, Zommbeetnica, Tonara pimpinan Ecek, Sara Ala pimpinan Uan Daudy, Serrend Band, Manohara, Sange. Juga grup musik Win Adek, Darwin dan kawan-kawan serta penampilan lifesing dari vokalis-vokalis muda ternama dari dataran tinggi Gayo.

Dikatakan, juga akan tampil pemain biola cilik Siti Zeta Renggali dan aksi teatrikal Anto Kieting. Yang paling menarik adalah pertunjukan musik "Ketibung" yang akan dimainkan oleh dua pria separoh baya dari Kayu Kul Pegasing, Nurdin M Berani dan Rahmatsyah. Keduanya akan Berketibung di Weh Pesangan. Selain penampilan solo, keduanya akan didukung dengan kolaborasi dari sejumlah seniman dan warga dengan "Kertuk Perau" dan "Mengerlok" nelayan Danau Lut Tawar.

Pertamakali Dipertontonkan

Seni "Berketibung" di Weh Peusangan itu merupakan pertamakalinya dipertontonkan diajang resmi dalam sejarah Gayo dan kemungkinan akan menjadi cikal bakal festival Ketibung di Tanah Gayo di masa yang akan datang, imbuhnya.

Pantauan Analisa, Sabtu pagi hingga menjelang siang tampak kesibukan di lapangan YPI Totor Bale Hakim Bale Bujang Takengon mempersiapkan acara ‘Inilah Gayo 2’. Sejumlah teratak dan panggung didirikan, panitia berharap tidak terjadi hujan agar pelaksanaan rangkaian acara dapat berjalan dengan lancar.

Panitia telah mengundang sejumlah pejabat dan tokoh dataran tinggi Gayo. Bupati Aceh Tengah dan Bener Meriah dikhabarkan akan hadir juga para calon bupati kedua kabupaten tersebut. Ajang ini disebut-sebut juga sebagai wadah silaturahmi dan halal bihalal bagi para pengunjung.

Menurut Khalis, sejumlah instansi dan lembaga ikut mendukung acara yang bersifat partisipatif tersebut. Seluruh media cetak, online dan elektronik di Aceh Tengah tampak terpampang di baliho berukuran 5x4 meter persegi.

Kegiatan juga didukung Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), Persaudaraan Kempo Indonesia (Perkemi), Gayo Diving Club (GDC), Forum Penyelamatan Danau Lut Tawar (FPDLT), Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI), Central Aceh Bicycle Club (CABC), Aceh Fotografer Net (AFN), termasuk Erwin Digital Studio (EDS).(jd)

Senin, 12 September 2011

Kontroversi Serangan Umum 1 Maret 1949 dan Fakta Radio Rimba Raya

Serangan Umum 1 Maret 1949, hingga saat ini dikenal pasukan TNI menyerbu kota Jogja yang dikuasai Belanda melalui Agresi Militer kedua pada Desember 1948. Pada saat itu serangan yang dilancarkan pasukan TNI bertujuan untuk merebut kembali ibukota Jogjakarta dari tangan penjajah Belanda. Ok, kita setuju!!

Persoalannya, dalam perjalanan sejarah serangan umum 1 maret, sudah terlalu banyak peristiwa dikebiri dan di rekayasa, salah satunya, sejarah SU 1 Maret seolah hanya menokohkan pejuang yang berperan dalam serangan tersebut, mulai dari penggagas yang masih menjadi perdebatan sampai dengan pelaksana serangan yang jelas-jelas menokohkan pejuang yang notabene laki-laki yang satu satunya aktor dibalik SU Maret tersebut.

Sejarawan DR. Anhar Gonggong berpendapat bahwa penggagas SU 1 Maret bukan Soeharto, menurutnya inisiatif penyerangan seperti itu bukan berasal dari komandan brigade akan tetapi berasal dari pejabat yang lebih tinggi. Hal ini juga dipertanyakan oleh Soedarisman, mantan walikota Jogjakarta ( 1947-1966 ) beliau mempertanyakan gagasan serangan berasal.

Sumber lain menyebutkan gagasan SU Maret 1949 adalah inisiatif Panglima Besar Sudirman, sebab panglima Sudirman pucuk pimpinan militer tertinggi pada saat itu, bahkan Sultan Hamengkubuwono memberikan dukungan terhadap rencana ini.

Keterangan lain menyebutkan bahwa penggagas atau inisiator SU Maret 1949 adalah dr. Wiliater Hutagalung yang sejak September 1948 diangkat menjadi Perwira Teritorial yang bertugas membentuk jaringan di wilayah divisi II dan III, pemikiran yang dikembangkan Hutagalung adalah perlu meyakinkan dunia internasional bahwa Republik Indonesia masih ada, ada pemerintahan, ada organisasi TNI dan tentaranya. Ia menambahkan perlunya melakukan serangan spektakuler terhadap isolasi Belanda atas ibukota Yogyakarta.

Sri Sultan HB IX, seperti dikutip buku Momoar Oei Tjoe Tat: Pembantu Presiden Soekarno, pernah bertutur: ”Sayalah yang semula membicarakan gagasan itu dengan Jenderal Sudirman yaitu minta izinnya untuk mendapatkan kontak langsung dengan Soeharto, ketika itu berpangkat mayor, untuk menjalankan tugas melaksanakan gagasan saya.” Hal itu juga terungkap dalam buku biografi Sultan HB IX, Takhta untuk Rakyat (1982).

Ironisnya, dalam buku-buku sejarah, data-data sejarah tidak ada jawaban yang pasti mengenai siapa penggagas atau inisiator SU 1 Maret yang monumental tersebut.

Menariknya, yang menjadi pembahasan sekarang ini hanya melulu mengenai pelaksananaan SU Maret 1949, jelas digambarkan bahwa laki-laki yang menjadi aktor utama dalam serangan itu adalah Letkol. Soeharto. Selama 32 tahun berkuasa, Soeharto seakan melakukan penggiringan bahwa dialah yang menggagas SU 1 Maret 1949, Sepeti film “Janur Kuning” misalnya, melukiskan kepahlawanan soeharto memimpin penyerangan Jogjakarta, kemudian “Majalah Tokoh Indonesia 24 Edisi Khusus 60 Tahun RI” juga menyebutkan bahwa Letkol Soeharto merancang dan melancarkan serangan umum ke sejumlah markas dan pos pertahanan tentara Belanda di dalam kota Yogya, tanggal 1 Maret 1949. Terlepas dari semua itu, SU 1 Maret yang terlanjur tercatat menjadi sejarah masih perlu pengkajian, agar tidak terkesan hanya melanggengkan kepentingan dan penokohan tehadap pelaku yang terlibat dalam peristiwa SU 1 Maret tersebut.

Ditengah kontroversi sejarah Serangan Umum 1 Maret 1949, satu fakta sejarah yang tidak terbantahkan adalah peran penting Radio Rimba Raya pada saat agresi militer Belanda ke II. Melalui informasi yang disiarkan Radio Rimba Raya yang berada di pedalaman Aceh, tepatnya di Aceh Tengah ( sekarang Bener Meriah ) tentang resolusi dewan keamanan PBB yang ditolak oleh Belanda yang disusul dengan propaganda Belanda bahwa Indonesia sudah tidak ada lagi, muncul gagasan untuk melakukan counter serta melakukan serangan spektakuler, hal inilah yang melatar belakangi Serangan Umum 1 Maret 1949.

Setelah melakukan serangan, sekitar 2 hari kemudian informasi keberhasilan kembali disiarkan oleh Radio Rimba Raya seperti di dalam Keterangan Website Sekretariat Negara Republik Indonesia “Radio Rimba Raya milik Republik di Sumatera, sekitar dua hari kemudian, mencatat bahwa serangan terhadap Yogyakarta dan pendudukan kota itu (adalah) prestasi militer yang luar biasa”.

Fakta sejarah tentang Radio Rimba Raya juga pernah disiarkan di TVRI nasional. Acara Forum Dialog tersebut berlangsung hari Jum’at tanggal 19 Desember 1998 pukul 21:30, pokok pembahasan yaitu sejarah PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia ), para peserta dialog malam itu yaitu Umar Said Noor mantan Wakil Kepala Stasiun Radio AURI Bukittinggi, Aboebakar Loebis mantan Diplomat RI, Bapak Halim mantan Wakil Gubernur Militer Sumatera Barat, dan didampingi oleh seorang sejarawan terkemuka Prof. Dr. Taufik Abdullah serta dengan moderator TVRI Bapak Purnama.

Dalam dialog tersebut terungkap peran pemancar Radio Rimba Raya yang memperlancar tugas pemerintahan PDRI.

Masih banyak lagi fakta sejarah lain yang mengungkap peran penting Radio Rimba Raya dalam perjuangan kemerdekaan. Anehnya, semua peristiwa ini tidak pernah mencuat dalam sejarah nasional Indonesia.

Data dan fakta tentang sejarah Radio Rimba Raya yang begitu mudah [di] hilangkan seakan memberikan pembenaran bahwa hanya peristiwa SU 1 Maret 1949 yang menyimpan kontoversi satu satunya bentuk perjuangan nasional yang mengesahkan keberadaan RI, jangan lupa! Radio Rimba Raya berperan menghantarkan Indonesia mendapatkan kedaulatannya melalui Konferensi Meja Bundar ( KMB ).

Akhirnya, lakukan penulisan, penggalian sejarah dengan benar, agar netralitas sejarah dapat dipertahankan. Jangan Lupakan Sejarah.

Zuhri Sinatra

Pemerhati Sejarah Gayo ( Aceh )

Warga Lut Tawar Membludak Saksikan Film RRR


Published on September 11, 2011 by

Takengon | Lintas Gayo : Berbeda dengan beberapa kali pemutaran film sejarah perjuangan Radio Rimba Raya sebelumnya di dataran tinggi Gayo, pada Sabtu (10/9/2011) malam warga Takengon memadati lapangan Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Totor Bale Takengon Kabupaten Aceh Tengah, khususnya kecamatan Lut Tawar.

Pemutaran film dengan gaya layar tancap ternyata lebih menyedot pengunjung daripada pemutaran di gedung atau laokasi resmi lainnya. Pengunjung yang terdiri dari berbagai kalangan umur, pria dan wanita tampak antusias menyaksikan film tersebut hingga kursi dan teratak yang disiapkan panitia tidak mampu menampung jumlah pengunjung. Hujan gerimis juga tidak mengurangi animo pengunjung yang hadir.

Acara yang dimulai sekitar pukul 21.00 Wib tersebut diawali dengan sambutan Camat Lut Tawar, Subhandhy yang menyatakan kegembiraannya atas respon warga menyaksikan film tersebut. “Sejarah Gayo banyak tidak diketahui lagi oleh generasi sekarang, mudah-mudahan dengan pemutaran film ini dapat menyadarkan kita akan pentingnya peranan Tanoh Gayo dalam perjalanan bangsa ini,” kata Subhandhy.

Sementara itu, Fikar W Eda yang diminta menjadi presenter acara menyatakan bahwa film sejarah Radio Rimba Raya merupakan karya putra Gayo, kota Takengon Ikmal Gopi yang juga hadir saat pemutaran film tersebut. Dengan berapi-api dengan gaya yang khas penyair berkaliber nasional ini memaparkan bahwa sejarah Gayo harus diselamatkan. Lantunan kalimat yang disampaikan dengan gaya bahasa puitis disambut tepuk tangan meriah dari pengunjung.

Fikar juga meminta agar warga hadir kembali di lokasi tersebut keseokan harinya Minggu (11/9/2011) sejak pagi pukul 10.00 Wib hingga petang karena ada sejumlah pementasan kesenian Gayo, pembacaan puisi, tari dan musik Gayo serta adanya pameran foto oleh para fotografer Gayo yang mengabadikan proses penelitian sejarah Urang Gayo di Loyang Mendale beberapa waktu silam.

Turut hadir dalam kesempatan tersebut tokoh pelaku sejarah perjuangan kemerdekaan HM Sidang Temas, unsur Pemerintahan Kampung, sejumlah tokoh muda Takengon dan pemerhati sejarah budaya Gayo.

Salah seorang panitia, Darmawan Masri, melalui Lintas gayo menyatakan terima kasihnya kepada semua pihak yang telah mendukung pemutaran film tersebut terutama masyarakat Hakim Bale Bujang yang telah berpartisipasi mendukung kegiatan. “Membludaknya warga yang hadir juga tidak terlepas dari peran aparat kampung di kecamatan Lut Tawar yang telah mengumumkan acara ini melalui pengeras suara Masjid dan Menasah yang ada dikecamatan ini,” terang Darmawan. (Windjanur)

Selasa, 23 Agustus 2011

Sutradara 'Radio Rimba Raya' Temui Wakil Ketua MPR

Kamis, 23 Juni 2011
Sejarah Rimba Raya Diusul Masuk Kurikulum

Jakarta- Sutradara film dokumenter 'Radio Rimba Raya' Ikmal Gopi, secara khusus menemui Wakil Ketua MPR RI Ahmad Farhan Hamid di Gedung MPR, Senayan, Jakarta, Rabu (22/6). Ikmal mengusulkan agar sejarah Radio Rimba Raya dimasukkan dalam kurikulum nasional.
Generasi muda seperti saya adalah korban kegelapan sejarah. Sebelumnya saya sama sekali tidak pernah tahu tentang Radio Rimba Raya. Semua baru jelas setelah saya mengerjakan film ini," kata Ikmal, kelahiran Takengon, Aceh Tengah.
Ikmal, alumnus jurusan film dan televisi Institut Kesenian Jakarta (IKJ) mengaku dirinya kian menggelora saat mengetahui betapa besar dan penting peran Radio Rimba Raya menyelamatkan Indonesia pada Agresi Militer Belanda II. "Tanpa bermaksud membanggakan diri secara berlebihan, kenyataannya bahwa Aceh yang menyelamatkan Indonesia pada masa itu," tambah Ikmal.
Belanda ketika itu menyatakan Indonesia sudah habis. "Tapi dari belantara Rimba Raya Aceh Tengah, diperdengarkan kepada dunia bahwa Indonesia masih ada. Radio itu disiarkan dalam berbagai bahasa dan dapat ditangkap di India dan kemudia informasi itu diteruskan ke Dewan Keamanan PBB,"tambah Ikmal.
Peran penting Radio Rimba Raya lainnya, lanjut ikmal, ketika panglima besar Soedirman membutuhkan obat untuk menyembuhkan penyakit paru-paru yang dideritanya. "Obat itu dipesan melalui Radio Rimba Raya. Sama sekali tidak banyak yang mengetahui soal ini," ikmal Gopi menjelaskan.
Melalui lembaga MPR RI, Ikmal mengusulkan agar memasukan sejarah Perjuangan Radio Rimba Raya dalam kurikulum pendidikan nasional. "Ini bukan karena Radio Rimba Raya berasal dari Aceh melainkan untuk kepentingan Indonesia yang menghargai sejarahnya," sebut Ikmal.
Ikmal mengaku sudah berkomunikasi dengan sejumlah kalangan, baik masyarakat umum, pelajar, mahasiswa, sejarawan, ternyata banyak yang tak mengenal Radio Rimba Raya. "Ini sangat menyedihkan kita, dan menjadi tanggung jawab Pemerintah memberitahukan sejarahnya," tambah Ikmal.
Farhan Hamid setuju sejarah Rimba Raya dimasukan dalam kurikulum pendidikan dan berjanji akan mengkomunikasikannya dengan pihak-pihak terkait. Ia menyarankan film dokumenter Radio Rimba Raya diputar di Jakarta dengan mengundang sejumlah elemen masyarakat."- Setelah pemutaran film, mereka yang hadir kita mintai tanggapannya," saran Farhan.
Film tersebut dikerjakan Ikmal sejak empat tahun silam dengan menggunakan dana swadaya. Film tersebut berhasil lolos finalis Festival Film Indonesia (FFI) 2011 dan beberapa ajang festival film dokumenter. Film ini sebelumnya pernah diputar dihadapan siswa dan guru sekolah menengah di Takengon dan di IAIN Ar-Raniry Banda Aceh. Farhan juga menyarankan film itu bisa diputar di sekolah-sekolah seluruh Indonesia. (Fik)

Jumat, 19 Agustus 2011

Aceh, “Napas Terakhir” Indonesia


Jumat, 19 Agustus 2011 07:28 WIB

Oleh Nab Bahany As

PERINGATAN Hari Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 2011 tahun ini memiliki makna tersendiri dalam perjalanan sejarah perjuangan bangsa. Dalam usia Kemerdekaan yang sudah mencapai 66 tahun, tentu banyak hal harus disyukuri dan direnungkan ulang oleh setiap anak bangsa, apa makna dan arti “merdeka” dalam berbangsa dan bernegara. Apakah cita-cita Kemerdekaan yang diproklamirkan 66 tahun yang lalu sudah sampai ke tujuan.

Sebab dalam sejarah perjuangan bangsa tercatat, bahwa sejak berdirinya Budi Utomo sebagai awal dari kebangkitan nasionalisme bangsa Indonesia yang bercita-cita menyatukan seluruh rakyat Indonesia--dari 134 suku yang mendiami kepulauan Nusantara--dalam satu semangat kebangsaan, yang puncaknya kemudian lahir Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, dengan pengakuan pemuda-pemuda Indonseia sebagai satu bangsa, satu tanah air dan satu bahasa sebagai wujud nasionalisme Indonesia yang lebih nyata.

Sejak itu slogan kenasionalan terus dikumandangkan oleh patriot bangsa yang semuanya bermuara pada kemerdekaan Indonesia. Lagu “Indonesia Raya” karya Wage Rodolf Supratman pun dikumandangan untuk pertama kali pada hari Sumpah Pemuda. Pekik “merdeka sekarang juga” atau pekik “merdeka hidup atau mati” merupakan tekad perjuangan yang menggelorakan nasionalisme kebangsaan yang tak bisa ditahan dalam setiap jiwa para patriot bangsa. Puncak semangat nasionalisme itu kemudian tercapai pada 17 Agustus 1945 dengan diproklamirkan kemerdekaan Indonesia.

Dalam usia 66 tahun Indonesia merdeka saat ini, apakah cita-cita bangsa yang dirumuskan Bung Karno dan para pendiri Republik ini sudah terwujud dalam sebuah negara-bangsa bernama Indonesia. Tampaknya, apa yang dicita-citakan bangsa ini untuk tumbuh sebagai bangsa yang adil dan makmur semakin sayup-sayup sampai ke tujuan. Malah banyak tokoh bangsa hari ini cenderung menilai Indonesia telah gagal sebagai sebuah negara yang dapat menyejahterakan rakyatnya.

Terbentuknya forum penyelamatan negara-bangsa beberapa waktu lalu di Jakarta, yang disusul berkumpulnya 45 tokoh nasional di Hotel Four Siason, Jakarta, minggu lalu, adalah terdorong dari rasa keprihatinan mendalam terhadap krisis negara yang dinilai sudah diambang kegagalan.

Lunturnya nasionalisme bangsa
Bila dilihat secara historis, akar nasionalisme Indonesia sebenarnya telah tumbuh jauh sebelum Budi Utomo didirikan. Semangat nasionalisme di Nusantara telah pernah dibangun oleh kerajaan Sriwijaya pada abad VI yang menguasai hampir seluruh daerah di Sumatra dan semenanjung Malaka. Hubungan Sriwijaya kala itu telah mencapai hampir seluruh wilayah Nusantara dan wilayah-wilayah Asia. Seperti India, Tiongkok, Arab dan Srilangka.

Namun keinginan Sriwijaya untuk mempersatukan wilayah-wilayah di Nusantara dalam suatu kesatuan kerajaannya harus patah pada abad XIII setelah kekuasaannya di Malaya direbut oleh kerajaan lain, dan pusat kejayaan Sriwijaya pun runtuh setelah diserang oleh kekuatan pasukan kerajaan Singasari dari Jawa.

Setelah itu bangkit pula nasionalisme kedua di Nusantara yang dipelopori kerajaan Majapahit. Pada abad XIII Majapahit berhasil mengusir pasukan Kubilai Khan dari Tiongkok sebagai wujud anti kekuatan asing di Nusantara. Patih Gajah Mada saat itu sudah mencita-citkan untuk mempersatukan seluruh wilayah Nusantara dalam suatu kejayaan Majapahit.

Nasionalisme keacehan
Sayangnya, dalam sejarah kebangkitan nasionalisme ke-Indonesia-an, baik dari abad klasik maupun dalam abat modern saat ini, peranan Aceh seperti terlupakan. Padahal akar nasionalisme yang dimiliki masyarakat Aceh sudah mulai tumbuh sejak abat ke 15 M, pada saat Sultan Ali Mughayat Syah mempersatukan kerajaan-kerajaan yang ada di Aceh dalam satu kedaulatan kerajaan Aceh Darussalam. Secara historis, dalam kronologis sejarah akar kebangkitan nasionalisme yang terjadi di kerajaan Aceh boleh dikatakan sebagai kebangkitan nasionalisme ketiga setelah Sriwijaya dan Majapahit runtuh di Nusantara.

Rasa kesatuan yang telah dibangun Aceh saat itu tidak hanya dalam wilayah Sumatera, tapi juga Pahang dan tanah Melayu lainnya tunduk dalam kesatuan kerajaan Aceh di bawah kepemimpinan seorang Sultan. Jadi, rasa nasionalisme kebangsaan ini telah tumbuh dalam diri masyarakat Aceh sejak berabad-abad yang silam. Hal ini boleh jadi karena pada saat itu semua wilayah di Aceh sedang menghadapi serangan Portugis yang ingin menguasai Aceh.

Secara historis, begitulah akar sejarah terbentuknya rasa kebangsaan dan semangat nasionalisme orang Aceh dalam mempertahankan keutuhan wilayahnya dari serangan bangsa asing. Pengalaman rasa nasionalisme itulah yang kemudian melekat dalam diri orang Aceh dalam perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Kolonial Belanda. Untuk rasa kebangsaan ini, masyarakat Aceh rela berkorban jiwa dan raga terjun ke medan perang mempertahankan Indonesia tidak hanya dalam wilayah Aceh, tapi rela berperang ke luar Aceh, seperti yang kita kenal dengan perang Medan Area.

Nafas terakhir Indonesia
Kita tidak ingin mengungkit cerita lama dari rasa kebangsaan dan sifat nasionalisme orang Aceh terhadap Republik ini. Tapi sejarah telah mencatat, sekiranya Radio Rimba Raya tidak dioperasikan di Aceh sabagai satu-satunya radio yang mengabarkan kepada dunia bahwa Indonesia masih ada, yaitu wilayah Aceh. Sementara semua wilayah-wilayah strategis di Indonesia saat itu telah berhasil diduduki kembali oleh Belanda, maka kita tidak tahu bagaimana nasib Indonesia kalau Radio Rimba Raya yang ada di Aceh tidak menyiarkan kepada dunia bahwa wilayah Indonesia masih ada, mukin saat itu dunia bisa saja mengganggap bahwa Indonesia sudah tidak ada lagi dalam pengakuan Persatuan Bangsa-Bangsa.

Tidak berlebihan bila dikatakan bahwa “Aceh adalah nafas terakhir Indonesia”. Dan kita tidak berani mengatakan bahwa kalau tidak ada Aceh saat itu mungkin “Indonesia telah tamat riwayatnya”. “Indonesia” atau “Keindonesiaan” tidak akan mungkin ada seandainya tidak ada Aceh (tulis Nurcholish Madjid (2001) dalam pengantar buku “Tragedi Anak Bangsa”). Ini sejarah yang harus diketahui oleh anak bangsa yang menjunjung tinggi rasa nasionalisme berbangsa dan bernegara bahwa betapa besar rasa kebangsaan dan nasionalisme yang dimiliki masyarakat Aceh terhadap Indonesia.

Semua itu adalah fakta sejarah yang harus ditulis ulang dalam sejarah nasional Indonesia, agar generasi bangsa dapat mengetahui bagaimana rasa kebangsaan dan rasa ke-Indonesia-an rakyat Aceh terhadap negara Kesatuan Republik Indonesia. Karenanya, Emha Ainun Nadjib (1992) dalam sebuah puisinya menulis: Indonesia berhutang budi padamu,Acerh/Indonesia berterimakasih padamu, Aceh/Indonesia menundukkan muka dan berkata: “Aceh tak perlu kau banggakan dirimu/Sebab akulah Indonesia yang wijib bangga atas pengorbananmu”.

* Penulis, pemerhati budaya, tinggal di Banda Aceh.

Senin, 08 Agustus 2011

Agresi dan Pasukan Republik Yang Terkepung

Written by Edy Rachmat on Friday, 29 July 2011 08:16

Betapapun kekejaman serdadu Belanda di masa perang, tetapi di masa damai telah kami lupakan kata alm. Tengku Nurdin. Rupanya bangsa Indonesia tidak dendam ya! Kata Step Vaessen wartawati Belanda
AGRESI Belanda pertama 21 Juli 1947, adalah peristiwa sejarah yang tidak bisa dilupakan oleh bangsa Indonesia. Kemudian disusul dengan agresi ke dua tanggal 19 Desember 1948 ibukota Republik Indonesia Jogyakarta direbut dan diduduki.

Presiden Soekarno, Perdana Menteri Sutan Syahrir dan Menteri Luar Negeri H Agus Salim ditawan di Brastagi, kemudian dipindahkan dan ditawan di Parapat. Sedangkan Wakil Presiden Hatta dan para pemimpin lainnya di tawan di Pulau Bangka.

Dalam situasi tersebut, Radio Belanda di negeri Belanda, radio Belanda di Jakarta dan Medan mengumumkan : “Republik Indonesia sudah tidak ada lagi. Ibukota Republik dan seluruh wilayah Indonesia telah diduduki Belanda, Para pemimpin Republik semua telah ditawan dan Pemerintah Indonesia sudah tidak ada!.

Radio “Rimba Raya” yang juga dikenal Radio Perjuangan Divisi X, berkedudukan di tengah rimba raya antara Bireuen-Takengon yang pemancarnya berkekuatan 350 watt, siarannya dapat didengar oleh seluruh Negara-negara Asia dan Australia, segera menjawab:

“Republik Indonesia masih ada, masih ada wilayahnya daerah Keresidenan Aceh. Masih ada pemerintah yaitu Pemerintah Darurat Republik Indonesia berkedudukan di Sumatera. Masih ada rakyat dan Tentara Nasional Indonesia yang terus melakukan perlawanan dan tekanan terhadap tentara Belanda.

Sesudah itu “duel” berita di udara terus terjadi, semua berita-berita provokasi dan berita bohong yang disiarkan radio Belanda terus dibantah oleh radio “Rimba Raya”, yang siarannya terus dimonitor oleh “All India Radio” dan “Australia Broadcasting”.

Belanda Juga Peringati Agresinya

Bukan hanya kita bangsa Indonesia yang tidak melupakan peristiwa sejarah agresi Belanda itu, tatapi juga pihak Belanda tidak melupakan terhadap agresi yang pernah mereka lakukan.

Hal ini ditandai, ketika Belanda memperingati 50 tahun Agresi Belanda di Indonesia, salah satu stasiun televisi di Negeri Belanda menyiarkan rekaman peristiwa pertempuran seru yang terjadi di Lubuk Pakam.

Karena ada siaran tersebut, telah mendorong NOS Television Hilversum The Netherlands mengutus dua orang wartawatinya ke Medan untuk mengumpulkan data dan fakta peristiwa Agresi Belanda itu. Wartawati itu masing-masing bernama Step Vaessen dan Kenneth Van Toll.

Kalau kami tidak salah, kunjungan ke dua wartawati ini ke Medan pertengahan Juni 1997. Wartawati yang menjadi tamu LVRI Sumatera Utara, Kepada kami mereka katakan sangat berhasrat untuk berkunjung ke Lubuk Pakam tempat pertempuran yang paling seru yang pernah terjadi.

Setelah mengambil kamar Hotel di Garuda Plaza Medan sore hari itu juga kedua wartawati Televisi Belanda meminta kami temani untuk melihat Lubuk Pakam yang diketahui pertempuran berlangsung seru ditempat itu. Wartawati itu ingin bertemu dengan orang-orang tua yang pernah mengalami pertempuran di masa itu.

Kami juga membawa tamu dari negeri “kincir angin” itu melihat tempat pertempuran ketika merebut pertahanan Belanda di Sungai Ular. Kami katakan itu kepada mereka karena jembatan Sungai Ular telah dikuasai Belanda maka pasukan dan para pengungsi harus menyeberangi Sungai Ular dengan rakit waktu keadaan banjir mereka diserang oleh pesawat Mustang Belanda banyak sekali yang jatuh korban baik lelaki maupun wanita serta anggota pasukan.

Peristiwa ini telah dilestarikan dalam bentuk film yang berjudul “Sungai Ular” yang aktornya bekas walikota Medan AS Rangkuty. Mendengar ada film Sungai Ular, wartawati itu meminta rekamannya, tapi kami katakan film tersebut masih dalam bentuk rol film 36 mm.

Kedua wartawati itu kemudian kami ajak ke Perbaungan, bukan untuk melihat Palagan Medan Area, tatapi untuk melihat relief gerakan pasukan Belanda, yang mendarat di Pantai Cermin dan menduduki Perbaungan membuat pertahanan di Sungai Ular, maka waktu itu terkurunglah pasukan Republik yang mundur dari Front Medan Timur.

Kemudian terjadi pertempuran seru ketika pasukan Republik berusaha melepaskan diri dari perangkap Belanda yang disebut “Killing group” , kemudian pasukan Republik berhasil menerobos “lingkaran maut”.

Setelah meninjau lapangan dan mendapat penjelasan mengenai gerakan pasukan Belanda dan pertempuran yang terjadi, keesokan harinya kami lihat telah tiba dari Jakarta juru kamera NOS Television Hilversum.

Pada hari itu kami pertemukan dengan tokoh pejuang pelaku sejarah yaitu Alm. Tengku Nurdin, (Mayor Purn) dan Trisno Mardjunet (Letkol Purn). Tengku Nurdin menjawab pertanyaan dan memberi penjelasan dalam bahasa Belanda, sedangkan Trisno Mardjunet dalam bahwa Indonesia.

Menjawab pertanyaan Tengku Nurdin menjelaskan terhadap tentara Belanda dan memperlakukan dengan cara sangat kejam besar anak buah nya hingga gugur. Memang itu sudah berlalu masa perang, di masa damai kita telah melupakan itu semua.

Dulu kita musuh kini, kita sahabat. Ucapan ini sangat berkesan bagi Step Vaessen wartawati Belanda itu dia mengatakan rupanya bangsa Indonesia bukan bangsa yang pedendam!, ya!.

Melepaskan dari kepungan (terkepung)

Melihat bahaya besar yang akan melanda pasukan Republik (terkepung) Mayor Bedjo mengambil inisiatif mengajak semua pasukan yang baru sampai di Araskabu untuk menghindar ke Kuala Namu yang terletak di bagian selatan Kota Lubuk Pakam.

Rencana serangan disusun sebagai berikut : Pasukan penggempur pertama ditugaskan Batalyon Manap Lubis menggempur benteng musuh yang berada di sekitar setasiun kereta api Lubuk Pakam. Kemudian meloloskan diri ke bagian Barat untuk selanjutnya bergerak ke Kampung Kuala Bali dekat Bangun Purba.

Serangan kedua dipimpin oleh Mayor Bedjo. Tugas pokoknya menggempur Lubuk Pakam ke dalam kota, langsung meloloskan diri dari jurusan Selatan, Kemudian menggempur pertahanan musuh yang ada di jembatan Sungai Ular.

Serangan-serangan pasukan Republik ini ke dalam kota terjadi pertempuran seru. Pihak Belanda lebih kacau lagi karena dalam penyerbuan ini pasukan kita melakukan bumi hagus, menyebabkan Belanda mengundurkan diri dari Lubuk Pakam, Pasukan Republik berhasil menduduki Lubuk Pakam selama 16 jam. Sempat juga menguburkan dua orang pejuang yang gugur dalam pertempuran itu. Kemudian Belanda menyerang lagi Lubuk Pakam pasukan Republik seluruhnya meninggalkan Lubuk Pakam.

Demikianlah sekelumit kisah pasukan Republik menerobos “lingkaran maut” berhasil merebut Lubuk Pakam selama 16 jam, kemudian melepaskan diri dari kepungan maut.

Pasukan Belanda dengan kekuatan penuh menyerang lagi Lubuk Pakam dengan pasukan yang datang dari arah Medan dan dari arah Perbaungan. Pasukan Republik itu kemudian bertempur lagi merebut Tebing Tinggi.

Selama tiga hari wartawati Belanda itu merekam mengenai fakta-fakta pertempuran di Lubuk Pakam dan Sungai Ular itu, direncanakan akan disiarkan oleh televisi mereka dalam 5 episode.

Kami juga meminta agar salah satu rekaman itu dikirim kepada kami, tetapi tidak pernah dipenuhi. ***** ( Muhammad Tok Wan Haria : Penulis, wartawan senior, Veteran Pejuang Kemerdekaan, pemerhati sejarah)