Selasa, 07 Juni 2011

Surat Dari Radio Rimba Raya

Published on June 6, 2011 by Lovegayo · No Comments :: 68 Views

Puisi : LK. Ara

- untuk A.K.Y.

Petang itu
Ada seorang tua singgah
Matanya bernada gundah
Memandang puncak tugu

Kini aku memang hanya sebuah tugu
Sering sepi
Berteman langit sunyi
Di tengah perkebunan kopi

Petang itu
Dalam cahaya tak begitu benderang
Orang tua itu tengadah
Seperti mencari sesuatu
Namun hanya bertemu
Dengan goresan berdebu
Dan tulisan beku
Di atas bongkahan batu

Tangannya yang keriput dan tua
Mencoba meraba dinding tugu
Yang juga keriput dan kusut
Seperti mengandung sedih
Gambaran riwayat perjuangan yang pedih

Ketika cahaya senja
Menyorot wajahnya yang tua
Mulut yang sejak tadi diam
Seperti gunung Buni Telong selama ini diam
Memuntahkan laharnya
Meluncurlah kata demi kata
Bercerita tentang Radio Rimba Raya saat mengudara
Di tahun sembilan empat puluh delapan
Pada Anggeresi Militer Belanda kedua dilancarkan
Saat itu Republik Indonesia
Mulai kembali dikuasai Belanda
Jogyakarta, ibunegeri Indonesia jatuh
Presiden Sukarno dan wakil presiden Hatta di tawan
Dr Beel komisaris tinggi yang mewakili Belanda
Juga memerintahkan
Bom dan hancurkan semua lapangan terbang
Angkatan udara Republik Indonesia
Bom dan hancurkan juga
Semua pemancar radio Republik Indonesia
Disetiap kota propinsi
Di seluruh Indonesia

Indonesia sudah kollep, runtuh begitu terdengar
Siaran radio Belanda berkoar-koar

Saat itulah Radio Rimba Raya
Yang berdiri di tengah hutan rimba
Di dataran tinggi Gayo letaknya
Perlahan bangkit mengudara
Kemudian menggelegar di udara
Bersuara keseluruh dunia
Dalam berbagai bahasa
Mengabarkan bahwa
Republik Indonesia masih ada
Pemimpin Republik Indonesia masih ada
Wilayah Republik Indonesia masih ada
Dan di sini Aceh masih siaga

Mendengar suara Radio Rimba Raya
Yang demikian terang dan nyata
Provokasi Belanda
Yang mulai merebak ke seantero dunia
Pupus seketika
Dan dunia percaya
Republik Indonesia masih ada
Masih ada

Banda Aceh-Takengon, 2-6 Juni 2011

Nonton Bareng Film RRR di Jakarta

Published on June 6, 2011 by Lovegayo · No Comments :: 109 Views

Jakarta | Lintas Gayo : Setelah sukses diputar dibanyak tempat, khususnya di Aceh, Jum’at (3/6) film Dokumenter sejarah perjuangan Radio Rimba Raya di putar di ibu kota Negara. Film Rimba Raya yang masuk nominator Festival Film Indonesia 2010 tersebut menggambarkan peran RRR yang ada di tanoh Gayo, Aceh dalam mempublikasikan Indonesia kepada dunia bahwa Indonesia masih ada.

Acara yang dilangsungkan di Pasar Minggu, Jakarta Selatan tersebut dihadiri pelbagai kalangan, diantaranya pelajar, mahasiswa, dan pemuda Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Termasuk, hadir dalam kesempatan tersebut, Mursyid, Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia asal Aceh. Juga tampak beberapa mahasiswa IPDN dari Bandung, perwakilan mahasiswa dari Yogyakarta, Bogor, dan Malang.

Ikmal Gopi, sang sutradara mengatakan bahwa dengan adanya film tersebut, orang bisa tahu rangkaian sejarah RRR yang sebenarnya. Walaupun sebelum, saat, dan setelah pembuatannya, Ikmal sempat didera masalah ekonomi dan beban psikologis.

“Salah satu kelemahan kita, adalah hilangnya peran Gayo baik di tingkat lokal, daerah, maupun di tingkat nasional. Karena, tidak adanya bukti-bukti sejarah, termasuk pelakunya,” kata Mursyid. “RRR merupakan salah satu langkah awal untuk mendobrak bukti-bukti sejarah lainnya,” tambah Mursyid.

Mantan Anggota Dewan Pewakilan Daerah (DPRD) Aceh Tengah Periode 1999-2004 ini mengharapkan agar saat seminar-seminar atau apa pun namanya, selain pembicara dari luar, perlu dilibatkan pembicara dari orang Gayo-nya sendiri. “Dengan demikian, kita telah memperkenalkan Gayo kepada orang lain,” jelas Mursyid.

Agustia Feriandi, salah satu peserta dari Jakarta yang menyaksikan film tersebut mengatakan salut dan angkat tangan dengan kerja keras Ikmal Kopi. Dia mengaku selama ini hanya membaca buku sejarah prihal RRR. Itupun kurang dapat dimengeri.

“Dengan pengemasan film, saya lebih dapat mengetahui dan memahami sejarah RRR. Sehingga, perlu adanya pemutaran film ini sesering mungkin, terutama di sekolah-sekolah yang ada di Aceh. Lebih khusus lagi, di Gayo agar generasi muda tidak melupakan sejarah,” pungkasnya. (Win Kin Tawar)

Rabu, 25 Mei 2011

AK Ya’kobi : Radio Rimba Raya, Jasa Besar Gayo Bagi Indonesia


Published on May 24, 2011 by Lovegayo

Banda Aceh | Lintas Gayo : Gayo mempunyai perjalanan sejarah yang panjang bahkan lebih panjang dari perjalanan sejarah Aceh, bukti sejarah dapat dilihat dari penemuan arkeolog di guha Mendale. Aceh dikenal karena latar belakang sejarah perjuangan yang panjang, sehingga dunia mengenal bahwa Aceh adalah bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang tidak terpisahkan. Tapi bagaimana dengan Gayo, bisakah menjadi bagian dari Indonesia yang tidak terpisahkan ? nilai sejarah apa yang bisa kita tunjukkan kepada pemimpin bangsa ini sehingga mereka menganggap bahwa daerah Gayo adalah bagian terkecil yang mempunyai jasa besar.

Aceh TV, melalui acara KEBERNI GAYO mencoba menggali jasa Gayo terhadap Indonesia, melalui dialog interaktif dengan pelaku sejarah AK Ya’kobi selama durasi waktu satu jam mulai pukul 20.00 s/d 21.00 WIB. Mengangkat kembali sejarah yang telah lama terpendam dan mempromosikan kepada mereka yang mempunyai otoritas untuk membangun kembali sejarah, merupakan tujuan yang diharapkan dari dialog interaktif ini.

Kita sering mendengar ungkapan melalui media massa ataupun dari mulut orang tertentu bahwa “orang yang tidak bisa saya lupakan adalah orang yang menyelamatkan nyawa saya”, demikian juga situasi Indonesia pada tanggal 19 Desember 1948, dimana Dr. Beel menyatakan bahwa Indonesia dengan Ibu Kota Yogyakarta telah dikuasai Belanda dan keberadaannya di PBB telah dihapus. AK Ya’kobi putra Gayo yang lahir di Blang Kejeren (Gayo Lues sekarang) mendengar dan mencatat pengumuman Beel tersebut melalui Radio di rumah Rasyid (seorang toke Tembakau di Banda Aceh), dan menginformasikan apa yang didengarnya kepada Staf Umum Panglima pada saat itu. Setelah menerima informasi Staf Umum memberi tahu kepada panglima (Ayah Beureueh) dan langsung direspon dengan mengcounter apa yang dikatakan Dr. Beel melalui radio Rime Raya.

Counter tersebut didengar oleh seluruh dunia dengan pengeras suara Radio Rime Raya, maka PBB dan Dewan Keamanan mengakui dan mendukung apa yang disampaikan melalui Radio Rime Raya. Itulah cikal bakal Indonesia mendapat pengakuan secara de fakto dan de jure.

Itulah jasa Radio yang terpancang di hutan belantara (rime raya), yang menyelamatkan denyut nadi terakhir dari kehidupan Bangsa ini. Sudah seharusnya semua orang tau dan harus mencari tau, untuk orang Gayo harus memberi tau kepada orang lain bahwa nyawa Indonesia terselamatkan melalui Radio Rime Raya.

Aman Aini melalui telpon interaktif menanyakan tentang bergabungnya Aceh dengan Indonesia. Menurut narasumber, ketika siang diumumkan Indonesia telah dikuasai dan di hapus dari catatan PBB malamnya Ayah Beureueh memanggil Militer, Sipil dan Tokoh masyarakat untuk rapat dan memberi tau bahwa kita siap untuk berperang melawan Belanda dan selalu loyal terhadap pemerintahan Indonesia.

Pada saat ini seluruh Indonesia telah dikuasai oleh Belanda keculi Aceh, menurut pemahaman Pak AK (Abdul Karim) Ya’kobi Indonesia telah dikuasai 90 % dan sisanya tinggal Aceh (10 %). Secara akal normal manusia tidak mungkin Indonesia terselamatkan, tetapi dengan kehendak Allah semua bisa terjadi. Disamping kekuasaan Allah, analisa akal juga dapat membuktikan bahwa pada saat itu Belanda melakukan dua kesalahan yang fatal : pertama, Belanda melakukan penyerangan pada saat gencatan senjata berlangsung. Kedua, Ketika konperensi antara Indonesia dengan Belanda, Belanda tidak hadir. Sehingga pada saat Konperensi Meja Bundar Dewan Keamanan PBB menyatakan penolakan terhadap Belanda dan memberi kemerkedaan kepada Indonesia.

Radio Rime Raya bukanlah secara serta merta ada di berdiri tegak di Rime Raya, tetapi radio yang pada dasarnya kepunyaan Garnijun TNI Kute Reje yang bertempat di Cot Guh di bawa oleh Husin Yusuf ke Bireuen (di rumah Beliau) selanjutnya di pasang di Krueng Simpur, tapi Radio ini tidak luput dari intaian Belanda dan merasa tidak aman, radio ini dibawa ke Burni Bius. Juga tidak aman dari intaian Belanda maka terakhir berdirilah Radio ini di Rime Raya (Ronga-Ronga).

Sebagai orang yang mengetahui dan mengalami pahit getirnya perjuangan dan bagaimana manfaat dari keberadaan Radio Rime Raya, pak AK Ya’kobi yang lahir pada tanggal 8 agustus 1928 dan sekarang telah berusia 84 tahun merasa bersedih ketika melihat Tugu Radio Rime Raya. Dan bertanya di dalam hatinya bagaimana jika Radio yang berjasa ini ada di Jakarta, saya yakin akan berdiri megah dan menjulang tinggi, tapi Radio Rime Raya ada di Gayo, maka nasibnya seperti sekarang ini.

Usia 84 tahun bukanlah usia yang terlambat berjuang dan berbuat untuk memperjuangkan lahirnya kembali Radio Rime Raya, untuk ini beliau bersama teman-temannya sedang berupaya mendekati pemerintah Aceh dan pemerintah pusat untuk membantu menghidupkan Radio Rime Raya.

(Drs. Jamhuri. MA)

Rabu, 18 Mei 2011

‘Brief Encounter’ Bermata Aceh

OPINI | 28 April 2011 | 13:26

BOLEH jadi sebagian orang berlebihan dengan judul tulisan ini. Namun, sekelumit catatan untuk mengenang sang Maestro Jurnalis Rosihan Anwar, dalam apresiasinya terhadap Aceh tentu tidak berlebihan. Apalagi, tokoh yang hidup di enam zaman-Belanda, Jepang, Orde Lama, Orde Baru, Revormasi, dan Millenium- ini telah banyak menorehkan tinta pemikiran untuk Indonesia. Aceh sebagai wilayah paling ujung Indonesia pun tak luput dari kaca mata Rosihan Anwar.

Dilahirkan di Kubang Nan Dua, Sumatera Barat, 10 Mei 1922, membuat ia akrab dengan Sumatera. Oleh karena itu, Rosihan banyak menulis tentang Sumatera, termasuk soal Aceh. Saya tak perlu menyebutnya satu per satu. Di kepala saya, “Brief Encounter in Aceh” yang pernah dimuat harian Kompas beberapa tahun silam merupakan tulisan fenomenal. Kendati dalam bentuk artikel singkat, tak sampai 1200 kata, tulisan itu telah membuka cakrawala ingatan pembaca bahwa Rosihan Anwar `bermata aceh’ dalam memandang Indonesia.

Pada artikel singkat tersebut, Rosihan menulis tentang pertemuannya dengan beberapa tokoh Aceh, di antaranya Daud Beureueh dan Hasan Tiro. Dua tokoh ini menjadi point off view tulisan Rosihan dalam mencermati Indonesia dari Aceh. Jelas saja, karena kedua tokoh itu sempat dicap “pemberontak” oleh Pemerintah Indonesia, walau kemudian diakui punya derajat kepahlawanan skala nasional.

Dari sudut pandang Beureueh dan Tiro-lah, Rosihan memakai kaca mata Aceh melihat Indonesia. Sebagai orang yang sudah hidup sejak zaman penjajahan Belanda, ditambah predikasinya sebagai juru warta, tentu banyak amatan personal yang dikemukakannya lewat tulisan. Dari beberapa catatannya, dapat dilihat bahwa Rosihan berusaha netral dalam menulis. Akan tetapi, tatkala menulis tentang Aceh-meskipun tidak dapat melepaskan nasionalisnya sebagai putra Indonesia-bagi saya dan mungkin bagi orang Aceh akan memandang pemikiran Rosihan tendensius keacehan.

Lihat kembali “Brief Encounter in Aceh”. Lelaki yang juga dikenal sebagai sejarawan itu mencoba menuangkan pengalamannya saat pertama sekali mengamati Beureueh ketika menyambut Presiden Soekarno di Aceh. Dipaparkannya bahwa benar Soekarno “mengemis” pada Aceh untuk dibelikan pesawat terbang. Tentu saja ini sejarah penting. Secara tegas pula, Rosihan menyatakan kembalinya Beureueh ke pangkuan Ibu Pertiwi bukan sebagai sebuah kekalahan, kendati pula tidak dapat dipandang sebagai sebuah kemenangan.

Suami Siti Zuraida ini mengisahkan pula brief encounter-nya bersama Hasan Tiro. Pertemuan yang berlangsung di New York pada 1954 itu berlangsung dalam sebuah taksi. Hasan Tiro duduk tepat di samping Rosihan. Namun, tak ada cerita menarik seperti kisah pertemuan dengan Beureueh. Brief encounter dengan Hasan Tiro itu benar-benar hanya sebatas duduk bersebelahan dalam taksi. Rosihan hanya mendengar sedikit celetuk Tiro yang anti-Soekarno.

Ada beberapa nama lain dalam brief encounter Rosihan Anwar bersama putra Aceh. Setiap pertemuan, Rosihan mencoba mendalami karakter orang Aceh. Meskipun ada beberapa pendapat yang bertolak belakang dengan hatinya ketika mendengar kisah dari orang Aceh, Rosihan lebih senang diam.

Aceh dan Jawa
Menarik mencoba mempengaruhi pembaca dengan menyebut “Aceh” lalu menyandingkannya bersama “Jawa”. Sejarah berliku sejak DI/TII hingga konflik bernama Gerakan Aceh Merdeka (GAM) telah mengesankan penyebutan dua nama ini sebagai pertentangan berketurunan. Akan tetapi, mencermati pemikiran Rosihan, sebenarnya tidak demikian selalu.

Dalam sebuah wawancara di TVRI Nasional (1988), Rosihan menyebutkan bahwa Aceh memiliki hubungan silaturrahmi dengan Jawa. Masuknya Islam ke Tanah Jawa (abad XIV) tidak lepas dari juru dakwah dari Pasai, Aceh. Bahkan, Rosihan mengatakan bahwa empat dari sembilan Wali Songo berasal Samudera Pasai. Mereka adala Sunan Gunung Jati, Sunan Ampel, Sunan Drajat, dan Sunan Bonang. Kenyataan ini pernah pula dilansir Harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta, 15 Maret 1988, halaman 4/Opini).

Dalam wawancara pada film dokumenter Radio Rimba Raya oleh Ikmal Gopi, sosok Rosihan Anwar juga muncul. Ia menceritakan tentang kiprah Aceh untuk Indonesia. Menurut Rosihan, Radio Rimba Raya (RRR) memiliki peran sangat besar dalam menyiarkan “ke-ada-an” Republik Indonesia masa perang. Tatkala Belanda mengumumkan bahwa Indonesia telah takluk, Indonesia sudah selesai, RRR malah menyiarkan Republik masih ada. Pejuangnya masih bergerilya.

Bahwa masih ada rakyat Indonesia dari sudut Aceh mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia disiarkan langsung oleh RRR diakui oleh Rosihan. Siaran RRR itu sampai ke dunia dengan kerja sama sejumlah stasiun radio lainnya yang masih tersisa kala itu. RRR, kata Rosihan, meski berada di Aceh, punya andil membangkitkan semangat juang rakyat Indonesia.

Kini, sosok budayawan, sastrawan, wartawan, sekaligus sejarawan itu telah pergi selamanya. Walau demikian, nama Rosihan Anwar tetap diingat, dikenang. Bagi Aceh, mungkin ia merupakan sosok pertemuan sesaat antara Aceh dengan Indonesia, brief encounter yang melihat Indonesia dari Aceh. Tentunya setelah sosok lainnya, seperti Pramodia Anantatoer. Bagi pers dan para penulis, sosok Rosihan Anwar patut dijadikan ikon, yang menulis warta dengan mengemban sifat nabi: siddiq, amanah, tabliq, dan fatanah. Selamat istirahat, Bapak Pers Indonesia![Herman RN]

* Penulis adalah alumnus Magister PBSI Unsiyah.
[Sumber: Serambi Indonesia, 28 April 2011]

Selasa, 03 Mei 2011

DPRK minta RRR jadi tontonan

Monday, 02 May 2011 20:19
Warta
WASPADA ONLINE

TAKENGON- Anggota DPRK Aceh Tengah berharap pemerintah daerah Aceh Tengah mendorong sekolah-sekolah, untuk memasukkan program wajib menonton film dokumenter sejarah Radio Rimba Raya (RRR).

Demikian dikatakan, Muhammad Ridwanm Ketua Komisi D DPRK Aceh Tengah, saat menghadiri pemutaran film ini. ”Saya berharap Pemda mendukung pemutaran film sejarah Radio Rimba Raya di sekolah-sekolah.”

Acara difasilitasi pemda Aceh Tengah melalui Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga (Budparpora). Kepala dinas Budparpora, Muchlis Gayo, “Masih banyak orang belum tau tentang sejarah radio Rimba Raya yang menyuarakan kemerdekaan Indonesia saat itu, walau pun demikian kita sebagai masyarakat yang memiliki tempat bersejarah ini memulai untuk menjaga, mempelajari dan memperkenalkannya kepada masyarakat Indonesia,” sebut Mukhlis.

Sementara Bupati Aceh Tengah, Nasaruddin, diwakili Sekretaris Daerah, Khairul Asmara, menyampaikan ucapan terima kasih atas keberhasilan Ikmal Gopi menyusun sejarah RRR dalam bentuk film dokumenter. Bahkan tidak tanggung-tanggung, film dokumenter ini menjadi salah satu yang terbaik masuk dalam festival film Indonesia (FFI) 2010.

Editor: PRAWIRA SETIABUDI

Selasa, 26 April 2011

Film Radio Rimba Raya Diputar di Bener Meriah

Tue, Apr 26th 2011, 08:55

REDELONG - Film dokumenter mengenai sejarah Radio Rimba Raya (RRR) karya sutradara Ikmal Gopi, diputar di ruang sidang Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Bener Meriah, Senin (25/4). Pemutaran film dokumenter yang bercerita tentang sejarah RRR itu, disaksikan oleh sejumlah anggota dewan Kabupaten Bener Meriah. Pemutaran film tersebut, diprakarsai oleh salah seorang anggota DPRK Bener Meriah, Bustamam Ardy.

Menurut Bustamam, Senin (25/4), sejarah Radio Rimba Raya, harus diketahui oleh jajaran pemerintah. Dan melalui adanya sejarah yang digambarkan melalui media visual ini, masyarakat tidak lagi dikaburkan tentang keberadaan sejarah RRR yang selama ini, mungkin hanya segelintir diterangkan dalam sejumlah buku sejarah. “Pemerintah dan masyarakat di daerah ini, sangat beruntung dengan adanya film dokumenter tentang sejarah RRR,” katanya.

Usai menyaksikan pemutaran film dokumenter sejumlah anggota dewan setempat menyatakan, kesiapannya untuk mendukung tentang rencana pemutaran film tersebut di sejumlah titik di Kabupaten Bener Meriah. “Kami selaku wakil rakyat akan menjembatani sosialisasi sejarah RRR melalui film tersebut,” janji Bustamam yang didampingi anggota DPRK lainnya, Andi Sastra SP, Darwinsyah, Tgk Muhammad Amin dan Ir Muhammad Husein.

Disebutkan Bustamam Ardy, semestinya sejarah RRR dipelajari disekolah-sekolah atau menjadi muatan lokal. Agar seluruh generasi bisa mengetahui dan bangga bahwa kemerdekaan Republik Indonesia disuarakan dari hutan belantara pedamalan Aceh, yakni Kabupaten Bener Meriah (sebelum pemekaran masih termasuk kawasan Kabupaten Aceh Tengah). “Kita tidak mau tugu RRR hanya sebatas simbol saja,” pungkas Bustamam.(c35)

Senin, 18 April 2011

Kesaksian Terakhir Rosihan Tentang Aceh


Saturday, 16 April 2011 02:11

Tak ada yang menduga jika berpulangnya Rosihan Anwar, wartawan senior pada 14 April 2011 lalu, memberi duka mendalam bagi sutradara film Dokumenter Sejarah Perjuangan Radio Rimba Raya Ikmal Gopi.

Dalam catatan Ikmal, kesaksian Sejarah terakhir Rosihan Anwar untuk Republik Indonesia memang tentang Radio Rimba Raya di pedalaman Aceh semasa Belanda berkuasa.

Dalam film Dokumenter Nominasi Festival Film Indonesia (FFI) 2010 untuk kriteria film dokumenter itu, Rosihan Anwar mengatakan, Aceh adalah bagian Indonesia yang tidak bisa diduduki Belanda sehingga Aceh bisa melakukan broadcast sampai ke luar negeri.

Sang Sutradara film, memang sudah gelisah sejak awal maret lalu, pasalnya, salah seorang tokoh dalam filmnya dikabarkan sakit parah dan masuk ruang ICU. Dan dengan cepat pula dia mengabarkan hal itu kepada seluruh sahabat yang terlibat dalam filmnya melalui pesan singkat.

Bagi Ikmal, mewawancarai Rosihan Anwar selama kurang lebih satu Jam di kediaman almarhun di Jalan Surabaya, Menteng pada tahun 2008, punya kebanggaan tersendiri. Ikmal melakukan wawancara bersama seorang teman, Sugeng MW, Editor film yang juga telah meninggal dunia pada tahun 2009 di Malang gara-gara sakit yang dia derita.

Kata lulusan IKJ ini, bertemu Rosihan bukanlah perkara mudah. Ikmal berkali-kali ingin menemui Rosihan, tetapi selalu gagal. Bukan lantaran kesibukan sang tokoh, tetapi Rosihan memang tak mau diganggu tatkala dia menjaga istri tercinta yang lagi sakit dan dirawat di rumah sakit. Baru dua bulan kemudian Ikmal diperbolehkan bertemu, sekaligus diberi kesempatan mengambil gambar untuk pembuatan Film Dokumenter Radio Rimba Raya.

“Saya masih teringat, saat itu kamera yang kami pakai adalah kamera pinjaman dari seorang teman,” kata Ikmal.

Bagi Ikmal, Rosihan Anwar adalah pribadi yang tegas, tidak suka bekerja lamban, harus cepat, tepat, langsung ke poin permasalahan.Itu sebabnya dalam Film Rimba Raya Rosihan memberi keterangan dengan jelas dan padat seputar peristiwa revolusi Indonesia kala itu.

Kata Rosihan antara lain, Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) Aceh hingga Konferensi Meja Bundar (KMB) yang cikal bakalnya adalah peristiwa serangan umum ke Yogyakarta oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) bersama rakyat.

“Peristiwa besar tersebut dikabarkan oleh Radio Rimba Raya ke dunia langsung dari pedalaman Gayo di kawasan Ronga-ronga,” papar Ikmal meniru kata-kata Rosihan.

Kata Ikmal lagi, yang paling berkesan bersama Pak Rosihan tatkala saat terakhir pengambilan gambar. “Tiba-tiba dia terlihat marah, sebab pertanyaan kami yang terakhir sangat tidak dia sukai. pertanyaan kami saat itu adalah apa pesan dan kesan bapak ?” Kenang Ikmal.

Rosihan Anwar dengan lantang menghardik kami dengan suara keras ”apa kalian ini !, pertanyaan seperti di zaman Belanda saja, seperti masa orde baru !”, kata Ikmal menirukan hardikan Rosihan saat itu.

Dan kata-kata Anwar itu pula yang membikin Ikmal sangat berduka, sekaligus bangga menjadi salah seorang yang beruntung mendapatkan rekaman kesaksian Rosihan. Kata Ikmal, kata-kata ‘Bonus’ Rosihan Anwar yang terngiang hingga kini adalah;

“Jangan pernah tanyakan apa pesan dan kesan anda kepada seseorang,” Ucap Ikmal persis yang diucapkan Rosihan tatkala menyudahi wawancaranya. | lovegayo.com